oleh

Hasil Tes Psikiater Penyerang Syekh Ali Jabir Dinyatakan Sehat

 

Humas Polda Lampung, Kombes Zahwani Pandra Arsyad saat dikonfirmasi wartawan, Rabu 16 September 2020

Realita Lampung (Bandarlampung) – Tiga hari pasca peristiwa penyerangan terhadap Syekh Ali Jaber pada saat acara Wisuda dan Tahfiz Quran di Masjid Fahaludin, Jalan Tamin, Tanjung Karang Barat pada Minggu 13 September 2020 lalu, Polisi menyatakam hasil tets psikiater  sementara tersangka AA (24) normal dan sehat.

Pelaku berinisial AA itu diketahui warga Sukajawa Tamin, Tanjung Karang Barat tersangka penikaman atau penusukan terhadap Syekh Ali Jaber itu diduga atas motif penyerangannya karena tidak suka mendengar suara berisik keagamaan yang disampaikan oleh Syekh Ali Jaber, diduga karena hal itu membuat tersangka mengambil pisau dapur  untul melalukan penyerangan terhadap ulama tersebut.

Sebagaimana disampaikan Kombes Zahwani Pandra Arsyad selaku Kabid Humas Polda Lampung, bahwa hasil sementara dari tim psikiater menyatakan bahwa tersangka penyerangan terhadap Syekh Ali Jaber saat ini pelaku sadar serta sehat saat dilakukam pemeriksaan.

“Dugaan sementara tersangka melancarkan aksi penyerangan terhadap Syekh Ali Jaber merasakan tergaggu dengan dakwah yang disampiakn Syelh Ali Jaber,” ungkap Kombes Zahwani Pandra Arsyad, Rabu 16 September 2020.

Lajutnya, “saat ini juga kami sudah mengeluarkan surat pemberitahuan dimulainya penyidikan SPDP sudah dikirimkan ke Kejari Bandar Lampung, proses penyidikan dan pemberkasan masih terus dilakukan, ujarnya.

Ada empat pasal yang dipersangkakan kepada tersangka AA, yakni Pasal 34 KUHP juncto Pasal 53 tentang Percobaan Pembunuhan Berencana, ancaman penjara paling lama 15 tahun.

Kemudian pasal subsider, Pasal 338 KUHP juncto Pasal 53 KUHP tentang Percobaan Pembunuhan, ancaman pidana penjara paling lama 10 tahun.

Lalu pasal subsider lagi dengan Pasal 351 Ayat (2) KUHP tentang Penganiayaan yang Mengakibatkan Luka Berat, ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun. dan Pasal 2 Ayat (1) UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang Tanpa Hak Menguasai dan Membawa Senjata Tajam, ancaman pidana penjara setinggi-tingginya 10 tahun. (***)

Komentar