oleh

Cerita Haru Pasien Covid-19, “Salam Sehat untuk Semua!

Tim Kesehatan saat memeriksa para pasien paparan covid-19 di lokasi isolasi, Komplek Islamic Center Kotabumi, fhoto: ist/ screenshoot

Realita Lampung – Seberapa banyak kita memiliki uang tidak akan dapat membeli nikmat sehat karena yang paling berharga adalah kebersamaan ketika berkumpul dengan keluarga.

Kalimat itu diutarakan salah seorang pasien (korban) paparan coronavirus disease 2019 atau Covid-19 yang tengah menjalani isolasi ditempat khusus yang disediakan Pemerintah Kabupaten Lampung Utara Provinsi Lampung ketika dikonfirmasi melalui jejaring, Jumat 18 September 2020.

Dalam wawancara khusus bersama RA (37) melalui jejaring tersebut dia menyampaian pesan-pesan imbauan kepada kalayak ramai di kondisi pandemi covid-19 ini dibutuhkan kesaran dari semua masyarakat. Karena untuk memutuskan rantai penyebaran wabah ini merupakan tugas bersama bukan hanya tugas Tim Gugus Tugas.

Salam santun darinya kami sampaikan melalui Media Online Realita Lampung agar masyarakat tetap mematuhi dan mengikuti imbauan dan peraturan pemerintah sebagai langkah dalam upaya pemutusan penyebaran wabah covid-19. 

RA menceritakan, sejak dirinya bersama pasien lain menjalani karantina di tempat khusus (Komplek Islamic Center Kotabumi) itu merupakan pengalaman sangat berharga karena merasa sangat jauh dari keluarga.

“Corona ini bukan aib, tindakan saya segera melakukan swab karena saya merasa berkontak erat agar memutus mata rantai penyebaran lebih luas,” ujarnya memulai percakapan kami (Realita Lampung).

Harapannya kepada Pemerintah karena ini adalah pandemi, maka seluruh jajaran kepemerintahan sampai ketingkat RT untuk bersama-sama saking bahu membahu mengatasi wabah ini. Karena bukan hanya tugas dan kewajiban dari gugus tugas tapi seluruh pemimpin lebih memperhatikan lingkungan dan masyarakat yang mereka pimpin, jangan menutup mata dan telinga.

“Untuk masyarakat saya berharap memiliki kesadaran yang tinggi, siapapun yang berkontak erat segera melaporkan diri agar mendapatkan penanganan yang cepat, agar tidak semakin meluas,” ungkap RA.

“Tidak perlu takut, tidak perlu malu, mengakui, menyadari lebih baik dari pada harus merugikan banyak orang,” lanjutnya.

Pernyataan itu dikarenakan masih banyak masyarakat yang berkontak erat tapi sangat takut mendengar kata swab.

“Padahal ketika diumumkan justru kita bisa lebih mawas diri,” ujarnya.

Diceritakannya, sebelum dirinya menjalani isolasi banyak keluarga, kerabat dan temannya yang hendak berjumpa namun karena sadar hasil swab dirinya belum diumumkan dia tolak untuk bertemu. 

Selama hasil swab belum keluar siapapun yang hendak bertemu dengan saya pada saat itu saya tolak. Mungkin lebih dari 30 orang, yang kerumah atau telpon, itu tidak saya izinkan berjumpa dengan saya, karena saya tidak ingin menjadi penyebab orang lain menderita.

“Berpisah dari keluarga, tidak dapat melaksanakan aktivitas. Yang paling berharga adalah bersama berkumpul dengan keluarga. Seberapa banyak uang yang kita punya tidak akan dapat membeli nikmat sehat,” kata RA.

Salam sehat untuk semua, tetaplah tertib mematuhi protokol kesehatan, karena kondisi saat ini satu-satunya cara memutus mata rantai covid-19. Mohon kerjasama semua pihak untuk bahu membahu melawan corona.

Tidak akan berarti kami dikarantina jika yang lain mengabaikan dan menganggap corona ini hanya rekayasa. Terimakasih untuk Satgas Covid, dan BPBD Lampung Utara dan Bapak RT kami, RT 02 Wonogiri Kelapa Tujuh, Kotabumi Selatan.

Lebih lanjut RA menuturkan, untuk fasilitas dan pelayanan dari Tim Gugus Tugas dalam merawat para pasien paparan covid-19 sudah sangat baik.

“Dokter datang setiap hari Selasa dan Jumat, kami dikunjungi hari Jumat oleh Kapus Tanjung Raja, diberikan obat sesuai keluhan masing-masing pasien. Saya sendiri diberikan obat asam lambung atau magh dan obat tambah darah dan paracetamol,” ungkapnya.

Fasilitas untuk di ruang isolasi, Alhamdulillah cukup, BPBD pun selalu tepat waktu memberikan menu makanan untuk kami, menu makanan bergizi dan baik. 

Dilingkungan sosial saya secara pribadi, Alhamdulillah Ketua RT kami memberikan perhatian yang luar biasa bersama warga Wonogiri. Hanya saja pak lurah belum sama sekali menanyakan kabar kami.

Bersama rekan yang di Bukit Kemuning, Alhamdulillah luar biasa reaksi cepat, dan perhatian Nakesnya luar biasa.

Saya sedih ada beberapa rekan yang senasib dengan saya, diperlakukan kurang baik oleh lingkungan masyarakat tempat tinggalnya. Bahkan ada yang diancam rumahnya akan dibakar jika tidak pergi isolasi di islamic, paparnya.

Untuk kondisi dirinya saat ini, “Alhamdulillah sudah lebih baik. Keluhan saya pribadi hanya itu keluhan saya,” pungkasnya. (***)
Sebelumnya: Korban Covid-19 Kooperatif, Jempol Buat Mereka ‘Semoga Lekas Sehat Kembali’ | Realita Lampung https://www.realitalampung.com/2020/09/korban-covid-19-kooperatif-jempol-buat.html 

Komentar