oleh

Dahlan Iskan, Tiga Tips untuk Jurnalistik Menarik Minat Pembaca

Tokoh Pers Nasional, Dahlan Iskan pada acara Webinar Safari Jurnalistik, Rabu 14 Oktober 2020

Realita Lampung – Tiga tips cara membuat berita yang mampu menarik minat pembaca dipesatnya perkembangan dunia digital dari Tokoh Pers Nasional Dahlan Iskan.

Ketiga tips itu disampaikan, Dahlan Iskan dalam acara Safari Jurnalistik yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat bersama Astra melalui zoom metting pada Rabu 14 Oktoer 2020.

Kuliah perdana Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) atau safari jurnalistik itu langsung dibuka oleh Ketua Umum PWI Pusat, Atal S Depari dan diikuti ratusan peserta baik dari para jurnalis dan masyarakat umum.

Ketua Umum PWI Pusat, Atal S Depari ketika membuka acara Safari Jurnalistik 2020

Dalam acara itu, Atal S Depari menyampaikan apresiasi atas keikut sertaan para peserta dari seluruh indonesia dalam kegiatan safari jurnalistik yang membahas tentang modal bisnis media dan masa depan wartawan. 

Di acara tersebut, Dahlan Iskan menyampaikan sedikitnya ada tiga tips untuk pelaku media agar menarik minat pembaca baik untuk media cetak maupun elektronik. Selain itu wartawan juga bisa memberikan inovasi dan memiliki kiat-kita tersendiri dikarenakan majunya perkembangan wartawan dituntut utuk bisa menciptakan karya yang memiliki mutu dan mencerminkan karakter sebagai pelaku media massa. 

“Ya itu bagaimana menjaga kualitas jurnalistik agar jurnalistik ini tidak mati, bukan karena tidak ada yang membaca tetapi karena jurnalistiknya sendiri yang tidak menarik dan tidak penting,” kata Dahlan Iskan.

Pengurus PWI Pusat pada saat acara Kuliah Perdana Sekolah Jurnalisme Indonesia atau Safari Jurnalistik yang dilaksanakan melaui video zoom, Rabu 14 Oktober 2020. 

Dia juga menyampaikan dirinya bercita-cita menjadikan jurnalistik media cetak menjadi kasta tertinggi di jurnalistik. Karena jurnalistik media cetak memiliki biaya dan kualitas yang tinggi. Sebelumnya Dahlan Iskan juga menceritakan untuk media cetak yang menari itu sebanranya media yang tidak berwarna karena selain dari klasik media cetak hitam putih juga menggurangi biaya produksi. 

“Saya ingat ketika saya memulai koran berwarna pertama, saya mendapatkan semacam kecaman bahwa koran itu jangan berwarna, karena kalau berwarna kesannya lopis artinya selera rendah, koran hitam putih itu lebih elegan, lebih elit, dan lebih klasik,tetapi saya tidak perduli karena tv saja sudah berwarna, orang juga sudah semakin berwarna warni,” ujarnya.

Waktu itu, lanjutnya, salah satu kecaman yang ditujukan kepadanya (Dahlan Iskan) bahwa koran hitam putih itu lebih baik. “Lihat itu new york times koran terkenal di new york warnanya hitam putih. Bukan karena dia tidak bsa berwarna tetapi new york itu sudah terlanjur sudah mengelaurga begitu besar biaya dan untuk menganti itu setidak-tidaknya membutuhkan waktu dua tahun,” ungkapnya.

Ditegaskannya, untuk media cetak apapun bentuknya maka yang diperlukan itu hanya satu ya itu kualitas. Yang media online dalam hal ini apakah tulisannya enak di baca, apakah tulisannya penting di baca, apakah penyajiannya menarik. “Jadi enak, penting, marik adalah nomor satu,” kata Dahlan Iskan, seraya mengatakan, setinggi apapun begawan jurnalistik itu sebagai jurnalistik pada intinya sama, hanya tinggal bagaimana cara-cara menempatkan titik dan koma secara benar, bagaimana menempatkan kata-kata secara baik dan benar itu saja kuncinya, lanjutnya. (***)

Komentar