oleh

Way Umpu Keruh, Pertambangan Emas Ilegal Makin Marak

Realita Lampung – Aktivitas penambangan emas ilegal makin marak di Kabupaten Way Kanan dimana tambang emas ilegal dilakukan di sepanjang aliran Sungai Way Umpu.

Dampak tambang emas ilegal tersebut menyebabkan rusaknya sungai dimana air sungai menjadi keruh dan tercemar oleh limbah kimia pengelolan emas seperti merkuri dan limbah lainya. Yang mengakibatkan kerusakan lingkungan yang cukup parah. Kerusakan yang terjadi di sepanjang Sungai Way Umpu tersebut akibat aktivitas penambangan emas pun terlihat kasat mata.

Relitalampung.com mencoba menyelusuri salah satu lokasi tambang emas ilega tepatnya di Dusun Suban, Kampung Negeri Batin, Kecamatan Umpu Semenguk Kabupaten Way Kanan. Untuk menuju lokasi tambang emas ilegal tersebut Relitalampung.com harus menempuh perjalan kurang lebih empat kilo dari pemukiman rumah warga mengunakan sepedah motor.

Tidak sampai disitu saja setelah sampai diperkebun karet milik warga Relitalampung.com kembali melanjutkan perjalan dengan berjalan kaki lebih kurang 1 kilo, dikarnakan motor tidak dapat menuju ke lokasi tambang emas, sesampainya dilokasi tambang Relilatlampung.com mendapati puluhan penambang emas ilegal sedang melakukan aktivitas penambang emas dipingir aliran Sungai Way Umpu. Dimana para penambang sedang bekerja mengeruk tanah dan bebatuan yang ada di pingir aliran Sungai Way Umpu, Senin (25/1/2020).

Seorang pekerja tambang emas ilegal berinisial R (40) yang enggan disebutkan namanya dengan lengkap saat ditemui oleh Relitalampung.com mengatakan, untuk di Dusun Suban sendiri ada beberapa lokasi tambang emas bahkan diseberang lokasi ini ada tambang emas apung yang menggunakan perahu. “Sedangkan untuk tambang emas yang mengunakan mesin TI dilokasi ini sendiri kurang lebih ada 20 mesin yang beroperasi, dimana rata-rata dipinggir aliran Sungai Way Umpu,” ungkapanya.

Ia juga mengungkapkan untuk hasil tidak menentu dimana tidak semua lokasi ada emas, setelah diperkirakan tidak ada emasnya mereka pun akan pindah ke lokasi lain.

“Untuk hasil tidak menentu kadang dalam satu bulan tidak ada hasilnya, apa bila di lokasi yang kita gali tidak ada emasnya maka kita pindah ke lokasi yang baru, tapi kalu pas ketemu lokasi yang baru ada emasnya usah satu bulan tadi nihil bisa pulang dalam satu hari. Sedangkan untuk lokasi tambang yang ada emasnya dalam satu minggu bisa menghasilkan emas ons nan. 

Selain itu juga ada faktor keberuntungan, jika beruntung dapat lokasi yang bagus tentunya akan banyak mendapatkan emas. Untuk pembagi hasilnya sendiri 40 punya pekerja 60 punya mesin atau pemilik modal, tapi itu juga tergantung kesepakatan antara pekerja dan pemilik mesin. Dan untuk harga jual emasnya sendiri 1 gramnya kita jual 400 ribu, itu juga kita harus jual kepada pemilik mesin dan pemilik mesin menjual emas kepada orang lain lagi,” terangnya.

Sementa itu ditempat yang sama salah satu pekerja tambang emas ilega yang atas pertimbangan keamanan meminta nama aslinya disembunyikan mengungkapkan, kami baru satu minggu menggali lokasi ini tadinya lokasi pertama bukan disini jadi kami belum tau ada emasnya atau tidak dilokasi yang baru ini, tapi biasanya dilokasi ini ada emasnya. Sedangkan untuk mesin dilokasi ini terdapat tiga mesin yang mana dalam satu lokasi ada 20 orang yang bekerja dan memiliki peran masing-masing, ada yang bertugas menggali dan ada yang bertugas medulang yang pasti sudah ada peran masing-masing.

“Untuk lokasi tambang emas yang ada di Way Kanan tidak hanya di Dusun Suban saja yang saya ketahui ada beberapa tempat penambang emas seperti ini diantaranya kali Betih-betih, Tahmi, Ojolali, Gistang dan Bukit Jambi ini yang saya ketahui,” tutupnya.

Sementara itu ditempat terpisa Ketua IWO Way Kanan, Fito Aliesetiady mengatakan, untuk menghentikan aktivitas tambang emas ilegal yang merusak lingkungan tersebut tidak cukup hanya melakukan razia dan penyitaan mesin tambang emas ilegal saja, apa lagi para pemodal atau pemilik mesin usaha tambang emas ilegal masih banyak berkeliaran. Yang ironisnya ketika ada razia tambang para pemilik mesin atau modal jarang tertangkap petugas, malah para pekerjanya yang mereka tangkap. Penegakan hukum yang lemah juga menjadi persoalan tersendiri sehingga praktik tambang emas ilegal yang sangat merugikan itu masih terus berlangsung dan semakin sulit dikendalikan.

“Seharusnya pihak yang berwajib menangkapi para pemilik mesin atau modal, yang mana bila tidak ada pemilik mesin atau modal maka aktivitas penambang emas ilegal itu dapat dikendalikan,” ungkapnya.

Apa lagi para pendulang diduga menggunakan air raksa beracun atau merkuri dan bahan kimia layin nya untuk membersihkan emas, lanjut Fito. “Akibatnya, air Sungai yang dulu bening kini berubah kecoklatan. Dan selain itu, ekositem mahluk hidup di sepanjang Sungai Way Umpu nyaris tidak ada kehidupan seperti ikan, udang dan mahluk air lainya akibat limbah tambang emas ilegal. Diharapkan pihak yang berwajib dapat bertindak denga tegas terhadap tambang-tambang emas ilegal yang masih beroprasi sampai saat ini. Jangan samapi demi kentungan perorangan dan golongan tertentu dampak yang dihasilkan merugikan orang banyak,” tutupnya. (Sandi)

Komentar

Realita Lampung