oleh

Sikapi Pernyataan Asisten III, Sekda Lampung Utara; Publik Pasti Bisa Menyikapinya Obyektif

Realita Lampung – Menanggapi pernyataan Asisten III Bidang Administrasi Umum yang menyatakan pimpinan jarang ngantor dan adanya kekhawatiran oknum pejabat untuk berbicara lantang karena takut jabatannya hilang, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lampung Utara minta publik menyikapinya secara obyektif.

Menurut Sekda, Lekok Asisten III merupakan seorang pemikir yang merupakan satu diantara garda terdepan dalam pembangunan daerah setempat. Untuk itu Sekda berharap masukan dan ide-ide cemerlang Asisten III itu akan terus dapat diberikan untuk kemajuan Lampung Utara edepan meskipun dirinya telah memasuki masa pensiun.

Disampaikan Sekda Lekok, yang pensiun itu adalah fisiknya dan juga mengakui bahwa Asisten III Pemkab Lampung Utara itu merupakan sosok yang netral, independen, prospektif, dan bermartabat.

“Tolong, suara yang begini jangan di cerna sebagai suara vokal. Suara yang keras, obyekyif dari beliau biasanya mencerahkan dan menyuarakan keadilan. Bagi yang mendengar suara beliau agar ditangkap manfaatnya dan gunakan untuk membangun maslahat, bagi masyarakat Lampung Utara,” kata Lekok ketika dikonfirmasi awak media di kantornya, Rabu (28/4/2021) kemarin.

Pada kesempatan itu juga Lekok mengutarakan harapannya, agar jajarannya tidak pernah mentiadakan suara eksternal dari Pemda, karena pemerintah bertugas untuk merealisasikan pembangunan bagi masyarakat Lampung Utara. Suara-suara seperti yang disampaikan oleh Asisten III tersebut, memang sering ditanggapi sebagai suara yang kurang mengenakan untuk di dengar.

“Untuk itu saya harap, jika mendengar suara yang seperti itu tolong jangan marah. Tolong cerna dengan baik, bagaimana memanfaatkannya untuk membangun kesejahteraan masyarakat Lampung Utara,” ujarnya.

Terkait kekhawatiran pejabat untuk bisa berbicara lantang dikarenakan takut jabatannya hilang karena meresa adanya jual beli jabatan, menurut Sekda Lekok, itu suatu hal yang sangat mudah untuk membuktikannya, satu-satunya cara adalah, cari indikasinya, jika ada, siapa yang menjual, dan siapa yang membeli, lalu laporkan ke aparat penegak hukum (APH). Karena hal tersebut jelas-jelas merupakan perbuatan yang melawan hukum, lanjut Lekok.

Sementara mengenai Bupati Lampung Utara dan dirinya yang disebutkan jarang atau tidak pernah masuk kantor, Lekok mengatakan, semenjak dirinya menjabat sebagai Sekda di Kabupaten Lampung Utara yang saat ini hampir 11 bulan. Dia menyatakan dirinya tidak pernah merasa tidak masuk kerja, seperti apa yang disampaikan oleh Asisten III tersebut terkecuali dia tengah dalam pelaksanaan tugas di luar lingkup Pemkab setempat.

“Gak bener itu, kalau saya dan bupati gak pernah masuk kerja. Seingat saya, saya tidak pernah, yang tidak masuk kantor. Kecuali saat saya sedang dinas di luar. Kalau Bupati, beliau tidak terbatas jam kerja. 24 jam beliau kerja. Saya berharap, ini tidak dijadikan polemik yang berkepanjangan,” kata Lekok. (IN/DN)

Komentar

Realita Lampung