oleh

Momen Idul Fitri, Jawaban yang Pas dari Taqabbalallahu Minna Wa Minkum

Realita Lampung – Bulan Ramadan 1442 Hijriah (2021 Masehi) telah berlalu, mat Muslim di dunia, khususnya Indonesia dan Asia Tenggara merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1442 H pada hari Kamis 13 Mei 2021.

Dimomen ini, salah satu pertanyaan yang masih saja mengemuka dan paling banyak dicari di mesin pencari Google pada hari-hari menjelang Idul Fitri tentang, “ucapan selamat Idul Fitri sesuai tuntunan Rasulullah SAW”.

Bagi yang sudah tahu kalimat ucapannya, biasanya akan mencari tahu apa jawaban untuk membalas ucapan selamat Idul Fitri?

Menjawab Serambinews.com, Selasa (12/6/2018) lalu, Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Kota Banda Aceh, Tgk Mulyadi Nurdin Lc MH menjelaskan, berdasarkan sejumlah riwayat, ketika para Sahabat Nabi Muhammad SAW bertemu (sahabat lainnya) pada Hari Raya Idul Fitri saling mengucapkan kalimat “taqabbalallahu minna wa minkum.”

“Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila bertemu di hari Id, mereka berkata kepada sebagian lainnya: taqabbalallahu minna wa minka,” kata Tgk Mulyadi mengutip kalimat Al Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani di dalam kitab Fathul Baari.

Mulyadi Nurdin, menambahkan, menurut Ibnu Taimiyah, selain kalimat “taqabbalallahu minna wa minkum”, ada pula sahabat yang mengucapkan “ahallallahu ‘alaika”.

Lalu kapankah waktu yang tepat mengucapkan “Taqabbalallahu minna waminkum”?

“Ibnu Taimiyah menjelaskan, ucapan taqabbalallahu minna wa minkum mulai diucapkan ketika seorang muslim bertemu dengan muslim lainnya setelah selesai shalat Id,” kata Mulyadi, alumnus Al-Azhar Kairo yang pernah menjabat sebagai kepala Biro Humas Pemerintah Aceh (2017-2018).

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Ucapan hari raya di mana sebagian orang mengatakan kepada yang lain jika bertemu setelah shalat Id, ‘taqabbalallahu minna wa minkum’, ‘Ahalallahu ‘alaika’, dan sejenisnya ini telah diriwayatkan dari sekelompok sahabat bahwa mereka mengerjakannya”.

Apa Artinya?

Mulyadi Nurdin menjelaskan, kalimat “taqabballahu minna wa minkum” yang merupakan ucapan para sahabat kepada sesama sahabat setelah shalat idul fitri adalah sebuah doa.

“Kalimat itu memiliki arti, semoga Allah menerima (amal) dari kami dan (amal) dari kalian,” ujarnya.

“Ucapan ini sangat tepat, karena saling mendoakan sesama Muslim agar amal-amalnya, setelah sebulan penuh berpuasa dan ibadah lainnya di Bulan Suci Ramadhan, diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tambahnya.

Bagaimana Menjawabnya?

Ketika seseorang mengucapkan ‘taqabbalallahu minna wa minkum’, maka selayaknya lah kita juga juga menjawab dengan doa yang sama yaitu ‘taqabbalallahu minna wa minkum’, kata Mulyadi yang kini telah kembali mengabdi di Kampus IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa.

Menurutnya, hal ini sesuai dengan riwayat yang menceritakan jawaban sahabat dan salafush shalih.

Ia kemudian mengutip riwayat dari Habib bin Umar Al Anshari, di mana ayahnya bercerita kepadanya bahwa beliau bertemu dengan Watsilah radhiallahu ‘anhu ketika hari raya, maka ketika ia mengucapkan kepada Watsilah, “Taqabbalallahu minna wa minkum,” Watsilah menjawab, “Taqabbalallahu minna wa minkum.” (HR. Ad-Daruquthni dalam Mu’jam Al Kabir)

Sementara dalam Sunan Al-Kubra, lanjut Mulyadi Nurdin, Imam Baihaqi menulis: “Khalid bin Ma’dan berkata, aku berjumpa Watsilah bin Asqa’ pada hari Id, lalu aku berkata: ‘taqabballahu minna waminka’, ia (Watsilah) menjawab; na’am, taqabbalallahu minna waminka.

Kemudian Watsilah berkata, aku pernah jumpa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasssalam pada hari Id, dan berkata (kepada Rasulullah): ‘taqabballahu minna waminka’, lalu Nabi menjawab: ‘na’am, taqabbalallahu minna waminka’.”

Selain itu, dari Syu’bah bin Al-Hajjaj, beliau berkata, “Saya bertemu dengan Yunus bin Ubaid, dan saya sampaikan, ‘Taqabbalallahu minna wa minka.’ Kemudian ia menjawab dengan ucapan yang sama.” (HR. Ad-Daruquthni dalam Ad Du’a).

Jawaban yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat tersebut, kata Mulyadi, sesuai dengan tuntunan Allah dalam Alquran Karim.

“Jika kalian diberi salam dalam bentuk apa pun maka balaslah dengan salam yang lebih baik atau jawablah dengan yang semisal.” (QS. An Nisa’: 86)

Bagaimana dengan Ucapan Minal Aidin wal Faizin?

Sebagaimana diketahui, kebiasaaan di Indonesia, orang-orang menuliskan kalimat “minal aidin wal faizin” menyertai ucapan selamat Idul Fitri.

Kalimat-kalimat ini sering ditemukan pada kartu-kartu ucapan selamat Lebaran maupun baliho dan poster yang dipasang para tokoh masyarakat, caleg, hingga calon kepala daerah.

Sebagian orang menggandeng atau merangkai kalimat “minal aidin wal faizin” dengan kalimat “mohon maaf lahir dan batin.

Sehingga sebagian orang yang tidak mengerti Bahasa Arab menganggap bahwa kalimat “minal aidin wal faizin” memiliki makna “mohon maaf lahir dan batin”.

Benarkah ucapan tersebut?

Menanggapi ini, Tgk Mulyadi Nurdin Lc MH menjelaskan, ucapan “minal aidzin wal faizin” merupakan penggalan dari kalimat dan doa “ja’alanallahu minal aidzin wal faizin” yang artinya “semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang.”

Menurut sebuah riwayat, ungkapan “minal ‘aidin wal faizin” diucapkan oleh para sahabat Nabi Muhammad Saw sekembalinya dari Perang Badar.

Ungkapan itu diucapkan sebagai luapan bahagia sepulangnya dari medan perang, seraya membawa keberuntungan karena dapat menjadi pemenang dalam peperangan itu.

Lengkapnya, ungkapan itu adalah sebuah doa: “Allahumaj ’alna minal ’adin wal faizin,”

”Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang”.

“Nah, jika seseorang menyalami kita sambil mengucapkan kalimat tersebut, maka jawablah dengan ucapan ‘Amin’ atau ‘Taqabbal Ya Karim’,” ujar Tgk Mulyadi.

Menurutnya, kalimat “minal aidin wal faizin” adalah salah satu dari empat versi ucapan selamat Idul Fitri yang kerap digunakan di negara-negara Muslim.

“Ucapan minal ‘aidin wal faizin ini lazim digunakan di sebagian negara Teluk. Kalau di Arab Saudi, selain ucapan ‘taqabbalallahu minna waminkum’ juga sering digunakan kalimat ‘Idukum Mubarak’ yang bermakna ‘semoga hari raya kamu diberkati’. Sementara di Mesir, kalimat yang populer digunakan adalah ‘kullu ‘am wa antum bi khair’ yang artinya ‘sepanjang tahun, semoga kamu selalu dalam keadaan baik’,” papar Mulyadi.

Sebagai sebuah doa, kata Mulyadi, kalimat-kalimat tersebut tentu tidak diharamkan diucapkan pada Hari Raya Idul Fitri, yang juga merupakan hari kemenangan dari perang melawan hawa nafsu.

“Namun ucapan yang terbaik adalah yang diajarkan Rasulullah dan dipraktikkan oleh para sahabat,” demikian Tgk Mulyadi Nurdin. (**)

Sumber: Suryamalang.com

Komentar

Realita Lampung