oleh

Memprihatinkan RSU Pemerintah Bisa Kekurangan Pasokan Obat

Realita Lampung – Terbebani oleh hutang sejak tahun 2020 lalu, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) HM Ryacudu Kotabumi Lampung Utara mengalami kekurangan pasokan obat-obatan di tahun 2021 ini.

Menurut keterangan pihak rumah sakit jika di tengah kondisi saat ini terus berlanjut dikhawatirkan akan berdampak lebih serius dan parah karena rumah sakit berplat merah ini pun terancam bangkrut atau tutup jika Pemerintah Daerah Lampung Utara tidak segera memberikan solusi atas persoalan yang dihadapi RSU setempat.

Ilustrasi, sumber gambar/foto: detik.com

Diketahui RSUD Ryacucu Kotabumi ini merupakan salah satu rumah sakit rujukan nasional yang kondisinya saat ini benar-benar memprihatinkan.

Kekhawatiran itu muncul karena pasokan obat-obatan di RSUD Ryacudu mengalami kekurangan stock obat untuk melayani pasien BPJS Kesehatan.

Banyak pasien yang disinyalir terpaksa membeli obat dan sejumlah perbekalan di apotik luar rumah sakit dengan biaya yang tidak sedikit yang musti dikeluarkan. Belum lagi, persoalan dana jasa pelayanan (Jaspel) yang menunggak sejak september 2020 lalu.

“Ya memang kita kekurangan obat. Karena setiap bulannya kita (RSUD Ryacudu) hanya mampu mencicil sekitar 1 miilar untuk 9 vendor dari 23 vendor yang ada. Dana itu dari hasil BLUD (Badan Layanan Umum Daerah) kita sendiri,” kata Direktur RSUD Ryacudu Lampung Utara, dr. Sri Haryati didampingi Kepala Bagian Tata Usaha RSUD Ryacudu, Sri Andini beserta pejabat lainnya, Jumat (28/5/2021) kemarin.

Dijelaskannya, meski RSUD Ryacudu berusaha untuk mencicil tapi tidak bisa memenuhi kebutuhan obat-obatan dan hal itu juga bahkan tidak bisa mengurangi beban hutang yang ada.

“Hingga kini RSUD kita memiliki hutang Rp7 miliar, dengan rincian 5 miliar obat-obatan dan 2 miliar cairan. Hutang ini ada sejak 2020,” ucap Direktur.

“Ini memang luar biasa (kekurangan obat), entah sampai kapan ini akan terjadi, ini bakal terus bergulir (kekurangan obat) meski kita sudah berupaya maksimal,” timpal Kabag Tata Usaha RSUD Ryacudu Lampung Utara, Sri Andini.

“Situasi ini sungguh tak ada kepastian, jika pemerintah tidak segera muncul dengan rencana penyelamatan terhadap RSUD ini,” sambungnya.

Menurut Direktur, persoalan ini sudah di laporkan ke Pemerintah Daerah Lampung Utara, namun sampai saat ini pihaknya belum mendapat solusi dari masalah yang ada di RSUD Ryacudu.

“Kita sudah melaporkan ini kepada Bupati LampungUtara, Sekda Lampung Utara dan Kepala BPKA. Tapi, ya belum ada solusinya,” terangnya.

Seyogyanya, kata dia, RSUD Ryacudu membutuhkan biaya operasional seluruhnya dengan biaya maksimal Rp. 3 miliar setiap bulannya. Tapi, pendapatan RSUD Ryacudu perbulannya hanya mencapai Rp1,3 miliar. (AL/RD)

Komentar

Realita Lampung