oleh

Sejak Pandemi Pengrajin Tapis Sepi Order Puluhan Pekerja Nganggur

Semenjak masa pandemi covid-19 para pengrajin kain tapis warisan leluhur masyarakat Lampung merasa sepi order dan para pekerja banyak yang tidak melakukan aktivitasnya alias nganggur.

Realita Lampung (RL) : Semenjak dilanda masa pandemi pengrajin kain tenunan tapis di Bumi Andan Jejama, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung sudah banyak berkurang bahkan bisa dibilang tidak lagi melakukan aktivitasnya.

Sebagaimana dikatakan Redawati selaku pengelola Gedung Gerai Tapis Negeri Katon, Kabupaten Pesawaran, Lampung yang diketahui sebagai sentra kerajinan di Bumi Andan Jejama bahwa dampak dari masa pandemi kelompok kerajinan tapis binaannya saat ini banyak yang tidak lagi melakukan aktifitas atau sedang istirahat.

“Ya apa yang mau digarap, pesanan sepi, tamu atau pengunjung juga sepi. Mereka ya nganggur semua, gerai juga banyak tutupnya karena sepi konsumen,” ungkap Redawati, Senin (16/8/2021).

Sebelum masa pandemi aktivitas para pengrajin setempat, menurutnya dapat menerima pesanan hingga ribuan potong kain tapis dan berbagai kerajinan khas Lampung lainnya. Seperti kain songket, kopyah, tas dan lain sebagainya dari berbagai daerah.

“Biasanya kita selalu menerima pesanan, baik pembuatan tapis maupun baju yang dibalut dengan pernak-pernik tapis, tapi selama dua tahun terakhir ini sangat kerasa sepinya pesanan yang masuk ke kami,” ujarnya.

Disampaikannya, pada saat itu apabila ada pesanan masuk, pihaknya bisa mempekerjakan ratusan masyarakat yang berada di wilayah Desa Negeri Katon, Kecamatan Negeri Katon, Kabupaten Pesawaran bahkan hingga masyarakat di dari Kecamatan Kedondong.

“Kalau lagi pesanan banyak itu kita memberdayakan masyarakat sekitar sini, sehingga dapat membantu perekonomian mereka juga,” ungkapnya.

Pada kondisi saat ini, lanjutnya, masyarakat yang biasa membuat tapis banyak yang tidak beraktifitas lagi karena sepinya pesanan. “Kalau sekarang ini paling ada satu dua instansi yang memesan tapi jumlahnya tidak terlalu banyak sehingga kita meminta bantuan kepada para pengerajin hanya beberapa orang saja,” imbuhnya.

Menyiasati kondisi tersebut, Redawati yang juga sebagai pengurus di Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Pesawaran dibawah pimpinan Nanda Indira Dendi ini juga banyak melakukan terobosan pemasaran baik melalui media sosial maupun jejaring yang ada untuk mempertahankannya.

“Sebisa mungkin kami pasarkan, sehingga masyarakat masih bisa beraktifitas membuat tapis, sehingga perekonomiannya tetap berjalan. Namun kalau pemasaran lewat medsos inikan tidak banyak yang pesan beda kalau konsumen itu datang langsung melihat kualitas barang yang kita jual,” paparnya.

Dia menyampaikan kepada masyarakat yang kerap mengenakan aksesoris etnik dapat langsung datang di Gedung Gerai Tapis Lampung di Desa Negeri Katon, Kecamatan Negeri Katon, Kabupaten Pesawaran untuk memilih sesuai dengan selera atau warna dan bahan yang diinginkan.

“Kalau datang langsung, kosumen dapat memilih sesuai dengan selera. Baik jenis bahan maupun model rajutan benang tapis yang cocok dengan konsumen sendiri. Untuk harga sangat kompetitif sesuai dengan kualitas bahan dan tingkat kesulitan rajutan benangnya,” kata Redawati.

Untuk diketahui, pernak pernik aksesoris dan pakaian khas daerah akan lebih familiar dan tereksplor manakala pemimpinnya dapat mengenakannya ketika berdinas dikeseharaiannya. Hal tersebut akan secara otomatis diikuti oleh seluruh jajaran dalam bertugas melayani masyarakat, sehingga terlihat lebih berkarakter serta menyumbangkan naiknya perekonomian pengrajin daerah setempat. (M9G/RD)

Komentar

Realita Lampung