oleh

Asep Setiadi Kembangkan Konsep Inovatif Destinasi Wisata Desa Six In One

Inovatif Destinasi Wisata Desa Six In One (enam dalam satu paket).

TASIKMALAYA – JABAR (RL) : Sebelum memberi paparan yang menjadi tujuannya, Asep Setiadi menjelaskan terlebih dahulu pengertian dari arti “Pasar” yang kita gambarkan tentunya merupakan gambaran pasar dalam pengertian sehari-hari, sementara menurul ilmu ekonomi pasar adalah bertemunya permintaan dan penawaran untuk suatu barang atau jasa yang diperjual-belikan.

Hal ini berarti cakupan pengertian pasar lebih luas dibandingkan dengan pengertian pasar sehari-hari yang hanya menunjukan suatu tempat.

Pasar adalah salah satu dari berbagai sistem, institusi, prosedur, hubungan sosial dan infrastruktur tempat usaha menjual barang, jasa, dan tenaga kerja untuk orang-orang dengan imbalan uang. Barang dan jasa yang dijual menggunakan alat pembayaran yang sah seperti uang.

William J. Stanton mengatakan “Pasar adalah orang-orang yang mempunyai keinginan untuk puas, uang untuk berbelanja dan kemauan untuk membelanjakannya”. Dari definisi diatas terdapat tiga unsur penting dalam pasar yaitu:

a. Orang dengan segala keinginannya
b. Daya beli mereka
c. Kemauan untuk membelanjakannya

Sedangkan pariwisata menurut UU nomor 10 tahun 2009 adalah, “berbagai macam kegiatan wisata yang didukung berbagai fasilitas dan layanan yang diberikan masyarakat, pemerintah, dan pemerintah daerah.”

Pernyataan-pernyataan di atas maka dapat disimpulkan bahwa pasar pariwisata adalah orang-orang yng memiliki keinginan untuk mengikuti berbagai macam kegiatan wisata yang didukung oleh daya beli serta kemauan untuk membelanjakan fasilitas dan layanan yang disediakan.

Namun disisi lain seorang tokoh pemuda asal desa Margalaksana Kecamatan Sukaraja ” Asep Setiadi ” dengan berbagai pengalaman yang didapat selama berkecimpung dalam bidang organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan yang digelutinya, tak pernah terhenti ingin memberi sumbangsih yang terbaik bagi warga masyarakat yang ada didesa dimana Asep tinggal, apalagi seperti saat ini berbagai permasalahan dihadapkan pada masa sulit secara nasional, terutama menghadapi pandemi covid-19, yang belum terprediksi kapan akan berakhir, pungkasnya.

Berawal dari obrolan santai bersama tokoh-tokoh setempat dari berbagai kalangan, di warung kopi tempat para pemuda biasa mangkal, Asep melontarkan sebuah gagasan atau ide mengenai destinasi wisata desa dengan bentuk konsep yang berbeda dari program yang telah ada.

Konsep yang dimaksudkan antara lain mencakup :

  1. Pengembangan kios-kios pasar tradisional,
  2. Pengembangan kios-kios fashion,
  3. Pengembangan kuliner,
  4. Pengembangan wisata alami, dan
  5. Pengembangan wisata budaya
  6. Pengembangan wisata ziarah.

Dengan demikian menurut Asep Setiadi, seiring dengan meningkatnya kebutuhan wisatawan akan produk wisata desa, yang diikuti oleh pertumbuhan desa wisata di Indonesia yang kian menjamur, maka para pengelola desa wisata harus melakukan fungsi pemasaran yang lebih baik lagi agar lebih terkenal dan banyak dikunjungi, sehingga tujuan mensejahterakan masyarakat melalui kepariwisataan dapat tercapai. Dalam hal ini saya ingin berbagi mengenai langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh pengelola desa wisata dalam memasarkan desa wisatanya pada era ekonomi berbagi (sharing economy) dan era digital pada saat ini. Berikut adalah langkah-langkah dari pemasaran desa wisata:

Produk desa wisata merupakan pengalaman total pengunjung selama melakukan aktivitas di desa wisata. Pengalaman total tersebut terdiri dari apa yang mereka lihat (something to see), apa yang mereka lakukan (something to do) dan apa yang mereka beli (something to buy). Oleh karena itu, langkah pertama dalam pemasaran desa wisata adalah menemukenali atau mengidentifikasi apa yang bisa dilihat, dilakukan dan dibeli oleh pengunjung di desa wisata yang kita miliki.

Cara mengidentifikasi produk adalah pertama dengan mendata sebanyak-banyaknya potensi yang dimiliki, dan ingat sesuatu yang biasa dan dilakukan sehari-hari oleh warga di desa kita, belum tentu biasa dimata pengunjung kita, seperti melihat orang berlatih seni tari mungkin biasa dimata kita sebagai warga desa, tetapi bisa menjadi sesuatu yang luar biasa dimata pengunjung, atau menanam padi mungkin hal yang biasa bagi kita, tetapi bisa menjadi luar biasa bagi pengunjung dari kota.

Asep menambahkan bahwa luas tanah yang akan dikembangkan kurang lebih 2 sampai 3 hektar, untuk kios sendiri sekarang sudah 60 kios yang terbangun dari jumlah 200 kios yang direncanakan, belum tempat wisata alami tepian sungai ciwulan, ujar AsAse. (DP/Neng-Red)

Komentar

Realita Lampung