oleh

Tolak Mobil Batu Bara, Gabungan Ormas Kembali Siap Gelar Aksi Damai

LAMPUNG UTARA (RL) : Menindak lanjuti keberadaan mobil pengangkut batu bara yang bermuatan lebih dan mengakibatkan ruas Jalan Lintas Tengah Sumatera yang ada di wilayah Kabupaten Lampung Utara mengalami kerusakan gabungan elemen masyarakat dari organisasi masyarakat (Ormas) dan lembaga swadaya masyarakay (LSM) mengadakan konfrensi pers.

Konfrensi pers ini dilakukan gabungan elemen masyarakat dalam menindak lanjuti penolakan atas keberadaan mobil pengangkut batu bara yang bermuatan lebih, konfrensi pers ini berlangsung di kantor PD IWO Lampung Utara, Senin 11 Oktober 2021.

Dalam pertemuan gabungan 12 Ormas dan LSM ini dibahas tentang tindak lanjut dari aksi damai peduli lampung utara yang menolak mobil pengangkut batu bara melintas di Kabupaten Lampung Utara. Penolakan itu karena keberdaan mobil oengakut batu bara itu menyebabkan kerusakan pada Jalinteng Sumatera, jembatan putus dan kecelakaan.

Syahbudin Hasan mewakili Ormas dan LSM di Kabupaten Lampung Utara mengatakan, terkait aksi damai yang telah dilangsungkan pada (6/10/2021) lalu itu dilaksanakan atas penolakan mobil bermuatan batu bara saat ini ada salah satu ormas atau LSM tidak lagi bergabung di barisan penolakan tersebut.

Disampaikannya, keluarnya salah satu ormas itu tidak menyurutkan niat dari gabungan ormas dan LSM yang masih bersi kukuh untuk melakukan penolakan terhadap kendaraan bermuatan lebih yang melintas di wilayah Lampung Utara.

Kami tidak akan mengusut lebih dalam tentang perpecahan internal dalam lembaga ormas dan LSM tersebut, cukup masyarakat yang menilai dan mentelaahnya sendiri, kata Syhabudin seraya mengatakan.

Namun setelah insiden tersebut tidak menyusutkan semangat kami untuk melakukan aksi damai dan putar balik kendaraan mobil batu bara, bahwasanya jalan-jalan di Kabupaten Lampung Utara dimulai dari Bukit Kemuning sampai Blambangan Pagar banyak yang rusak parah dan berlubang serta jembatan sampai ada yang putus dan menimbulkan kecelakaan lalu lintas.

Semua itu akibat mobil batu bara yang overload dalam muatan yang menjadi kegelisahan dan keperhatinan kita bersama, ujarnya.

Dia juga mengatakan, alasan penolakan terhadap kendaraan bermuatan batu bara itu, karena jelas jalan umum diperuntukan untuk lalu lintas umum bukan diperuntukan untuk badan usaha dan kepentingan sendiri, seharusnya pengakutan batu bara tidak melintasi jalan umum harus menggunakan jalan khusus.

Dalam hal ini kami berharap ketegasan dari aparatur pemerintah dan penegak hukum karena kenyataan di lapangan seolah-olah menjadi membiaran tidak ada langkah tegas dari pemerintah terkait pengggunaan jalan umum, ungkapnya.

Dilanjutkan Mirza, yang juga mewakili Ormas dan LSM yang ada di Kabupaten Lampung Utara menegaskan, terkait masalah ini, kami atas nama aliansi masyarakat peduli lampung utara, kami akan terus melakukan aksi damai penolakan mobil batu bara yang bermuatan berlebih yang melintasi jalan di Kabupaten Lampung Utara.

Kami akan melakukan aksi kembali dengan merubah nma menjadi Gerakan Masyarakat Peduli Lampung Utara (Gempal) yang di dalamnya ada 12 Ormas dan LSM yang ada di Kabupaten Lampung Utara, ujarnya.

Kita akan melakukan aksi damai pada tanggal 25 Oktober 2021 mohon dukungan dan do’a dari masyarakat di Kabupaten Lampung Utara, ucapnya.

Untuk saat ini ada 12 aliansi Ormas dan LSM untuk menggelar aksi Gerakan Masyarakat Peduli Lampung Utara yang akan mendukung aksi damai menolak mobil batu bara melintasi Jalinteng Sumatera khususnya di Lampung Utara.

Tidak menutup kemungkinan akan ada Ormas dan LSM yang akan bergabung dengan aliansi Gerakan Masyarakat Peduli Lampung Utara, kami akan terus melakukan aksi sampai ada keadilan dan tindakan tegas yang ditegakkan di Lampung Utara ini, pungkas Mirza. (Budi Irawan)

Komentar

Realita Lampung