oleh

Menilik Program Sekolah Penggerak di Kabupaten Lampung Tengah

Menjadi Sekolah Penggerak merupakan kesempatan emas untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), serta peningkatan sarana dan prasarana sekolah. Program ini disebut-sebut mengguyur sekolah dengan fasilitas yang menggiurkan. Apakah benar demikian?

Suasana di Sekolah Menengah Tingkat Pertama (SMP) Negeri 1 Seputih Agung, Kabupaten Lampung Tengah, Jum’at pekan lalu tampak berbeda. Semua siswa didik SMPN 1 terlihat sibuk kegiatan praktek memasak. Para guru dengan seksama memperhatikan siswa, dan sesekali memberikan arahan.

Hari itu SMP Negeri 1 Seputih Agung sedang ada kegiatan yang disebut projeck profil pelajar Pancasila. Projek itu bertujuan melatih keterampilan siswa, yang merupakan bagian dari peningkatan kemampuan siswa didik sesuai target program sekolah penggerak.

SMP Negeri 1 Seputih Agung, berada di Kampung Simpang Agung, Kecamatan Seputih Agung, Kabupaten Lampung Tengah. Lokasi sekolah ini memang tidak terlalu strategis, bahkan dekat dengan lahan perladangan milik warga. Sekolah ini berdekatan dengan SMA Negeri 1 Seputih Agung.
SMP Negeri 1 Seputih Agung merupakan salah satu sekolah di Kabupaten Lampung Tengah, yang ditetapkan sebagai sekolah penggerak oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Menurut Kepala SMP Negeri 1 Kecamatan Terbanggi Besar Hadi Suhartanto, sekolah yang dipimpinnya merupakan angkatan pertama program sekolah penggerak di Kabupaten Lampung Tengah.

Ditanya motivasi ikut program sekolah penggerak, Hadi menyampaikan narasi terlebih dahulu. Dia menuturkan, sebelum mendaftarkan sekolah untuk mengikuti program sekolah penggerak saya sebelumnya meminta izin dewan guru dan seluruh stafnya. Karena motivasi saya adalah untuk memajukan sekolah. Terutama adalah untuk kurikulum merdeka belajar dan peningkatan IT. Tapi sebelumnya saya sudah izin kepada dewan guru dan staf. Apakah saya diizinkan, dan didukung bila suatu saat saya lulus sebagai sekolah penggerak? Dan semua menjawab mendukung. “Sehingga motovasi saya adalah untuk memajukan sekolah ini,” ujarnya, saat ditemui di sela-sela kesibukannya, beberapa waktu lalu.

Menurut Hadi, ada manfaat 5 yang didapatkan sejak sekolahnya berstatus sekolah penggerak. Yang pertama adalah pendampingan langsung dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Setiap bulan ada 3 kegiatan yakni pertama kegiatan lokakarya. Semua kepala sekolah ada lokakarya dengan Kementerian yang diwakili oleh pelatih ahli.
Yang kedua ada kegiatan “coaching”, yakni memberikan motivasi kepada kepala sekolah oleh para ahli. Dan Ketiga kegiatan PMO, yakni peningkatan guru sekolah ini yang mengajar di kelas VII.

Manfaat yang kedua, kami disekolah penggerak ini akan lebih meningkat kualitas SDM nya karena selalu dibekali dan diberikan motivasi agar selalu berbenah. Bahkan kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat mengingatkan kepada semua sekolah penggerak yang pertama adalah penguatan SDM dan non SDM. Terutama guru, pengawas, termasuk siswa, semua harus ditingkat.
Manfaat yang ketiga adalah terkait digitalisasi sekolah. Kami mendapat bantuan dari pemerintah, sehingga kami guru-guru menggunakan sarana-sarana yang lebih lengkap. Seperti komputer, alat-alat lain, model pembelajaran, akun-akun belajar. Semua itu difasilitasi oleh pemerintah.

Ditanya target yang akan dicapai? Hadi menjelaskan bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah menetapkan target yang harus dicapai. Ada 3 tahapan yang harus dicapai. Untuk pertama minmal harus mengikuti standar nasional. Di sekolah penggerak ada istilah AN (Asistment Nasional).

“Kalau sekolah penggerak untuk kelas VII dan kelas VIII. Kalau tidak sekolah penggerak hanya kelas VIII saja. Saya berharap untuk kualitas akademik target saya harus lebih meningkat,” tandasnya.

Masih kata Hadi, tahapan yang kedua dari segi profil pelajar Pancasila. Dalam sekolah penggerak ada projek yang disebut projek profile Pancasila yang mempunyai porsi 20-30 persen jam belajar, sehingga melatih keterampilan.

“Target saya, anak-anak kami di SMP Negeri 1 Seputih Agung disamping akademis juga non akademis keterampilan akan lebih meningkat. Sesuai dengan tema sekolah penggerak,” tegasnya.

Hadi berharap, sekolah penggerak ini diikuti oleh semua sekolah. Sehingga semua sekolah yang ada di Indonesia baik SD, SMP, SMA , SMK mempunyai mutu yang sama. Tidak ada sekolah unggulan, tidak ada sekolah yang terbelakang. Peningkatan mutu karater anak yang harus diutamakan.

Salah seorang dewan guru SMP Negeri 1 Kecamatan Seputih Agung Margianti S,Si mengaku mendaftarkan diri mengikuti program guru penggerak. Ditanya motivasinya, Margianti mengatakan karena termotivasi sekolahnya yang merupakan sekolah penggerak. Yang kedua, dia termotivasi oleh diri sendiri karena melihat keadaan pendidikan di Indonesia yang sangat membutuhkan guru-guru yang kreatif yang innovatif.

Margianti mengungkapkan harapannya, program guru penggerak dapat meningkatkan kegiatan pembelajaran di Indonesia dapat lebih maju dan innovatif. Sebab pembelajaran di Indonesia setelah pandemi Covid-19 dan seterusnya berbasis literasi digital.

LEPAS DARI NARKOBA
Tidak puas hanya dari keterangan Hadi Suhartanto, awak media mendatangi kepala sekolah lainnya. Abraham Saleh, Kepala SMP Negeri 2 Gunung Sugih memberikan jawaban yang senada dengan Hadi Suhartanto. Fasilitas yang diberikan kepada sekolah penggerak menjadi daya tarik yang luar biasa.

Menurut Abraham Saleh, SMPN 2 Gunung Sugih terdaftar sebagai sekolah penggerak angkatan pertama. Ditanya motivasi mengikuti program sekolah penggerak, Abraham mengatakan bahwa sekolahnya dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sama mempunyai visi dan misi yang sama.

Diungkapkan Abraham, dimasa lalu siswa SMP Negeri 2 Gunung Sugih sempat terpapar narkoba. Selain itu jumlah siswa di sekolahnya awalnya berjumlah 148 orang yang terbagi dalam 5 Rombel (Rombongan belajar). Kenyataan tersebut menyebabkan pihaknya tertantang untuk bergerak maju.

Program sekolah penggerak mempunyai visi dan misi yang sama dengan sekolahnya. Hal itu memompa motivasinya untuk meningkatkan kualitas dan SDM Sekolah. Usaha itu membuahkan hasil. Rombel yang mulanya ada 5 kelas, kini menjadi 5 kelas. Siswa yang tadinya berjumlah 148 orang, sekarang sudah 250 an orang.

Masih kata Abraham, tadinya anak-anak ini sempat terpapar narkoba. Sekarang dengan kegiatan-kegiatan meningkatkan mutu anak-anak dengan bantuan berbagai pihak seperti Puskesmas, pondok pesantren, Kepolisian dan alumni memberikan perubahan yang memuaskan.
“Semua terjalin dengan baik, sesuai dengan visi kami yakni bergerak maju,” tanda Abraham.

Ditanya manfaat yang dirasakan SMP Negeri 2 Gunung Sugih setelah ikut program Sekolah Penggerak? Abraham mengungkapkan beberapa poin. Yang pertama adalah proses perubahan digitalisasi. Baik dari anak-anak didik maupun dewan guru, peran digitalisasi dalam proses pembelajaran sudah tampak. Bantuan-bantuan dari Kementerian sangat menunjang proses pembelajaran, dan proses kegiatan ekstra kulikuler di sekolahnya.

“Salah satunya kami sudah ada ruang komputer, ruang rapat, ada fasilitas lainnya yang berkaitan dengan peningkatan SDM dewan guru,” terang Abraham.

Ditanya dukungan dewan guru? Abraham bersyukur selama proses menjadi sekolah penggerak, para dewan guru berkolaborasi dan saling bahu membahu untuk membuat SMP Negeri 2 Gunung Sugih menjadi lebih baik lagi.

Selama ditetapkan menjadi sekolah penggerak, Abraham mengakui tidak lepas dari berbagai kendala. Dia meyakinkan pihaknya terus belajar, dan terus berkolaborasi antara dewan guru, kepada sekolah penggerak lain dan para aktifis pendidikan.
Abraham mengungkapkan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah mempunyai peran yang sinifikan. Dengan membantu memfasilitasi sekolah penggerak agar terus bergerak menjadi lebih baik lagi. Selain itu, ada bantuan rehap bangunan dan perhatian-perhatian lainnya.

“Sekolah penggerak, SMP Negeri 2 Gunung Sugih begerak maju dan hebat!” saut Abraham di akhir wawancara, sembari sembari mengepalkan tangan kanannya.

PENGAWASAN SETIAP BULAN
Kedua kepala sekolah yang kami termui mengakui, bahwa program sekolah penggerak sangat bermanfaat. Untuk lebih menyakinkan, kami bertanya langsung kepada pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah. Sejauh mana progres program sekolah penggerak di Kabupaten Lampung Tengah?

Puji Waras Prihanto S.Pd, M.Pd, Kepala Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah mengatakan, sekolah penggerak di Kabupaten Lampung Tengah ada 2 angkatan.

Di angkatan pertama Tahun 2021 ada 55 sekolah penggerak yang terdiri dari 7 sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), 30 Sekolah Dasar (SD) dan 18 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Di angkatan ke-2 Tahun 2022 tercatat ada 59 sekolah penggerak yang terdiri dari 17 PAUD, 26 SD, dan 16 SMP.

“Total untuk 2 angkatan ada 114 sekolah,” jelas Puji, saat ditemui di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah.

Ditanya progres program sekolah penggerak di Kabupaten Lampung Tengah Puji mengungkapkan, dengan adanya program sekolah penggerak ada peningkatan dari sisi kinerja kepala sekolah dan dewan guru.

Selain itu ada peningkatan sarana dan prasarana sekolah. Karena dengan program sekolah penggerak ada beberapa bantuan yan diterima pihak sekolah.

Dari sumber dana APBN ada bantuan buku, bantuan pelatihan-pelatihan untuk peningkatan kompetensi guru. Sedangkan dari Pemkab Lampung Tengah menyediakan bantuan dana khusus untuk sekolah-sekolah penggerak untuk peningkatan kompetensi guru dalam bidang IT, numerasi maupun literasi.

Apa istimewanya sekolah yang berstatus penggerak? Puji menjelaskan, banyak sekali keistimewaan sekolah yang berstatus sekolah penggerak. Yang pertama dari sisi bantuan dari pemerintah pusat dan daerah. Di sisi lain ada untuk peningkatan komptensi para guru selama 6 bulan berturut-turut. Serta didampingi pelatih ahli yang bertujuan meningkatkan kualitas dan kompetensi guru.

“Jadi secara tidak langsung mereka (para guru) akan menerima manfaat yang sangat besar berkaitan dengan pendidikan dalam sekolah penggerak ini,” jelas Puji.

Ditanya peran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemkab Lampung Tengah dalam pengawasan program sekolah penggerak? Dituturkan Puji, di sekolah penggerak ada bantuan yang disebut BOS kinerja. Dinas berwenang memantau penggunaan BOS kinerja tersebut untuk memastikan dana itu digunakan untuk peningkatan kompetensi guru dan siswa.

Selain itu dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemkab Lampung Tengah, ada bantuan peningkatan kompentesi guru yang bersumber dari APBD. Bantuan itu merupakan intervensi Pemerintah Daerah dalam rangka peningkatan kualitas dan kompetensi guru.

Pelaksanaan program sekolah penggerak bukan tanpa kendala. Puji mengungkapkan, kendala utama adalah letak geografis. Sebab hampir semua proses pendidikan di sekolah penggerak menggunakan metode Daring (dalam jaringan). Letak georgrafis yang tidak sama, pada saat penggunaan peralatan IT mengalami kendala.

“Karena teman-teman yang masuk sekolah penggerak ini adalah orang-orang yang memiliki motivasi yang sangat tinggi maka kendala itu dapat teratasi. Walaupun dengan bersusah payah kita berpindah-pindah tempat untuk pelaksaan proses daringnya,” tandasnya.

Ditanya apa yang akan dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemkab Lampung Tengah dalam upaya mendorong agar program sekolah penggerak ini berjalan sukses? Puji menjawab, tugas Pemerintah Daerah selain memberikan bantuan untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi guru, ada kewajiban untuk mengontrol sekolah dan komptensi guru dalam peningkatan levelnya.

Ada perubahan minimal yang kemarin prestasi sekolah biasa-biasa saja. Ada peningkatan dari kedisiplinan guru, kedisiplinan siswa, peningkatan karakter. Yang tujuannya pencapaian tujuan profil pelajar Pancasila.

Masih kata Puji, barometer program sekolah penggerak adalah peningkatan berkaitan dengan proses kegiatan belajar dan mengajar (KBM) di sekolah-sekolah. Kalau kemarin banyak sekali yang menggunakan metode tradisional, sekarang mulai ada perubahan di sekolah-sekolah penggerak yang menggunakan perangkat IT.

Kemudian metode yang digunakan tidak hanya berpusat pada guru. Tetapi berorientasi siswa belajar secara mandiri dan guru hanya fasilitator saja. Pada akhirnya terjadi peningkatan dari tahun ke tahun.

Apakah ada sekolah penggerak yang belum menunjukkan kinerja yang memuaskan? Dijelaskan Puji, pihaknya setiap bulan mengevaluasi sekolah-sekolah penggerak yang disebut “Projeck Managemen Office’. Artinya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemkab Lampung Tengah terdapat Tim yang selalu memantau kesulitan yang dihadapi oleh sekolah-sekolah penggerak. Kendala secara tehknis dan kendala SDM selalu dilaporkan kepada Tim tersebut.

“Setiap bulan Tim kami bertemu dengan pelatih-pelatih ahli yang turun ke sekolah-sekolah melakukan inventarisasi kendala ataupun keunggulan yang telah dicapai,” terang Puji.

Secara tidak langsung Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemkab Lampung Tengah selalu memantau perkembangan sekolah-sekolah penggerak tidak 1 semester saja, melainkan setiap bulan. Karena pihaknya melaporkan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia setiap bulan. Karena ada Projeck Management Office itu.

Kepada sekolah-sekolah penggerak Puji berpesan, agar bersama-sama meningkatkan kualitas. Dengan peningkatan itu mudah-mudahan tujuan dari pemerintah pusat yang akan mencapai tujuan profil pelajar Pancasila dapat tercapai dengan baik.

“Jangan patah semangat. ketika ada kendala mari kita bicarakan. Mari kita musyawarah untuk mencari solusi yang terbaik,” pungkasnya di ujung wawancara.

PROGRAM GURU PENGGERAK
Selain Program Sekolah Penggerak, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia juga meluncurkan Program Guru Penggerak. Kedua program guru penggerak lebih berfokus kepada individu guru yang bersangkutan.

Menurut Kepala Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) Puji Waras Prihanto, di Kabupaten Lampung Tengah tercatat ada 48 orang di angkatan 2 yang sudah lulus pendidikan dan bersertifikat. Di angkatan 5 yang baru berjalan ada 75 orang. Karena tidak setiap tahun Kabupaten Lampung Tengah menjadi sasaran program guru penggerak.

“Ada peningkatan yang signifikan, teman-teman termotivasi mengikuti program guru penggerak,” ujarnya. Ditanya apa istimewanya menjadi guru penggerak? Puji mengatakan keistimewaan menjadi guru penggerak sama dengan sekolah penggerak. Yang membedakan kalau guru penggerak berfokus ke individu yang bersangkutan.

Bantuan yang diberikan oleh pemerintah, terutama bantuan untuk pelatihan-pelatihan supaya guru-guru kita ada peningkatan kompetensinya itu sangat luar biasa. Untuk angkatan ke-2 kemarin, selama 9 bulan mereka (para guru) di treatment oleh fasilitator yang diturunkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk membina guru-guru penggerak. “Supaya dalam proses kegiatan dan mengajar, kreatifitasnya ada peningkatan,”tutupnya. (Willy Dirgantara)

Komentar

Realita Lampung