oleh

Mengenal 5 Figur Bakal Calon Kepala Kampung Qurnia Mataram

Lampung Tengah – Kampung Qurnia Mataram, Kecamatan Seputih Mataram adalah salah satu dari 84 Kampung di Kabupaten Lampung Tengah, yang akan menggelar pemilihan kepala Kampung pada bulan Agustus mendatang. Ada 5 figur yang memiliki latar belakang yang berbeda.

Misdi, warga Dusun I, RT.04 Kampung Qurnia Mataram ini memilki mental yang pantang menyerah. Pria kelahiran 56 tahun ini maju sebagai calon kepala kampung untuk yang ketiga kalinya. Ditemui dikediamannya, Misdi mengaku kurang puas dengan keadaan birokasri di Kampung Qurnia Mataram.

Saat ini Misdi sehari-hari bekerja sebagai petani. Kendati sebagai petani, ternyata Misdi memiliki latar belakang pendidikan yang cukup tinggi. Misdi menyandang sebagai sarjana Administrasi pendidikan sejak tahun 1995 lalu.

Misdi menjelaskan motivasi mencalonkan sebagai kepala Kampung Qurnia Mataram karena tergerak untuk melakukan pembenahan, terutama tetang birokrasi. Pembenahan yang dimaksud salah satunya adalah musawarah warga. Disisi lain dia meyakinkan akan melakukan pembenahan terkait bantuan untuk masyarakat.

“Secara umum saya ingin memperbaiki kampung sendiri agar lebih baik,” tegasnya, saat ditemui dikediamannya kemarin.

Ditanya apa yang membedakan dirinya bakal calon lainnya? Misdi menekannya kepada metode pendekatan langsung kepada masyarakat. Dalam setiap perbincangan dengan masyarakat yang ditemuinya, dia selalu menampung aspirasi warga.

Ketika dikejar pertanyaan siapa saingan terberat dari semua bakal calon kepala kampung? Misdi mengakui pertanyaan tersebut berat untuk dijawab. Dia mengatakan, semua bakal calon adalah saingan yang berat.

Misdi mengaku tidak menargetkan perlolehan suara dalam Pilkakam mendatang. Dia hanya berharap tujuannya untuk menjadi kepala kampung tercapai.

“Saya tidak mempunyai tolak ukur persentase. Saya hanya berharap tujuannya saya tercapai,” tandas Misdi.

Karyanto Yuli Setyabudi, adalah bakal calon petahana. Warga Dusun II, RT.06, Kampung Qurnia Mataram ini mempunyai backgroud seorang penghulu. Lahir di kampung Qurnia Mataram 51 tahun yang lalu, Karyanto mengaku akan melanjutkan program yang belum terlaksana dimasa kepemimpinannya.

Dia mengungkapkan, selama 6 tahun memimpin Kampung Qurnia Mataram terhambat akibat pandemi Covid-19. Sejumlah program belum terlaksana dengan maksimal.

Menurut Karyanto, selama 6 tahun menjabat kepala Kampung Qurnia Mataram dia sudah banyak melakukan sejumlah pembangunan fisik. Seperti siring, gorong-gorong, pembangunan jalan, baik mengajukan proposal melalui dana APDB dan menggunakan Dana Desa.

“Masyarakat cenderung melihat kesana, sarana transportasi jalan intinya. Itu dapat kami laksanakan,” ujarnya.

Karyanto masih punya keinginan untuk mengembangkan Badan Usaha Milik Kampung. Dia bercita-cita untuk membangun badan usaha milik kampung.

Ditanya apa yang keistimewaan dirinya dibandingkan calon lainnya sehingga akan memilih dia, Karyanto tertawa kecil. Dia dengan rendah hati mengatakan tidak memiliki keistiwaan dibandingkan bakal calon yang lainnya.

“Sama dengan bakal calon lainnya,” imbuhnya.

Karyanto menduga masyarakat akan memilih berdasarkan kedekatan personal. Aktifitasnya yang cenderung aktif dikegiatan keagamaan, menjadi nilai tersendiri di mata warga. Kendati sering ikut dalam berbegai kegiatan seperti pengajian, Karyanto meniatkan sebagai ibadah.

“Saya sebelumnya pembantu penghulu. Untuk kegiatan keagamaan umat muslim saya selalu berada disitu. Jadi kepala kampung atau tidak jadi kepala kampung, itu sudah jadi rutinitas,” jelasnya.

Karyato tidak berkenan menjawab berapa persen suara yang ditagetkan pada pilkakam mendatang. Tapi dia tetap berusaha semaksimal mungkin.

Dia berpesan kepada bakal calon lainnya, agar berkompetisi secara baik. Dengan menawarkan program kepada masyarakat. Jangan membodohi masyarakat dengan iming-iming. Serta menghindari kampanye yang menjelakkan calon lainnya.
Bakal calon lainnya, Jauhan Kurniadi memiliki latar belakang militer. Pria kelahiran 50 tahun yang lalu ini sebelumnya melanglang buana di sejumlah daerah. Sejak tahun 2013 di kembali ke kampung halamannya Qurnia Mataram. Sekarang ini dia berdinas di Koramil Seputih Mataram, dengan pangkat Pembantu Letnat Satu. Meskipun berpeluang menjadi perwira, Jauhan akan melepas status prajurit TNI Angkatan Darat jika terpilih sebagai kepala kampung.

Menurut Jauhan, motivasi dia mencalon kepala Kampung Qurnia Mataram karena ingin membuat Qurnia Mataram menjadi kampung lebih baik dari kampung yang lain. Dari 12 Kampung di kecamatan Seputih Mataram, Qurnia Mataram adalah kampung pelopor.

Ditanya apa yang membuat masyarakat tertarik untuk memilihnya, Jauhan menduga latar belakang dirinya sebagai seorang tentara. Jauhan menuturkan, dulu Qurnia Mataram pernah dipimpin oleh seorang kepala kampung yang berlatar belakang TNI.

“Kebetulan senior saya, pak Sugiono sudah menjadi contoh. Artinya (prajurit TNI) banyak disenangi masyarakat,” tandasnya.

Dikejar pertanyaan berapa persen suara yang ditargetkan dalam Pilkakam mendatang, dia enggan menjawab. Jauhan menyerahkan kepada masyarakat untuk menentukan calon yan disakaui. Tapi dia menekankan agar jangan ada kecurangan, seperti money politik.

Jauhan juga tidak mau menjawan siapa bakal calon yang menjadi saingan terberat. Dia menganggap semua bakal calon adalah lawan yang berat.

Kepada bakal calon lainnya, Jauhan berpesan agar bersaing dengan gentlemen, gunakan kesampatan ini untuk menarik simpatik masyarakat. Jangan ada yang saling menjatuhkan dan menjelek-jelekkan sesama bakal calon lainnya.

Jika Karyanto adalah bakal calon petahana yang menjabat kepala kampung terakhir, Dulmanan, warga Dusun V RT.16 adalah kepala kampung sebelumnya lagi. Pria berusia 50 tahun ini pernah menjabat kepala kampung Qurnia Mataram tahun 2008 – 2015. Dia kalah suara dengan Karyanto pada Pilkakam tahun 2016 silam.

Dulmanan mengatakan, motivasi dia mencalon kepala Kampung Qurnia Mataram untuk membuat perubahan di Qurnia Mataram. Dengan memperbaiki infrastruktur kampung, terutama jalan-jalan menuju kawasan perladangan milik warga.

Dulmanan mengaku tidak menggunakan tim sukses menghadapi Pilkakam mendatang. Dia memilih langsung bertemu warga demi menarik simpati. Dulmanan juga menganggap semua bakal calon adalah lawan yang berat.

“Semua calon punya massa, punya itikad baik untuk memperbaiki kampung Qurnia Mataram,” tegasnya.

Dulmanan mengatakan, dari sekitar 3800 mata pilih dia berharap bisa meraup 3000 suara. Sebagai mantan kepala kampung Qurnia Mataram, Dulmanan meyakini pengalaman masa lalu mengelola kampung Qurnia Mataram menjadi keunggulan dibandingkan bakal calon lainnya.

“Untuk infrastruktur, pembangunan, saya pernah berbuat. Ada tilas-tilasnya, bekas-bekasnya masih ada,” tandasnya.

Dulmanan berharap kepada bakal calon lainnya agar bersaing secara sehat, damai, dan tidak menjelekkan satu sama lain. Tidak orang tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar. Semua salah dan semua juga benar.

“Tidak usah mencari kesalahan orang lain, dan tidak usah mencari kebaikan orang lain. Yang penting kita koreksi diri sendiri, kita berbenah untuk kampung Qurnia Mataram,” pungkasnya.

Sarminto, bakal calon yang ke-5, merupakan ketua Badan Usaha Milik Kampung (BUMKAM) Qurnia Mataram. Pria yang lahir 51 tahun lalu ini, adalah seorang sarjana pendidikan. Sarminto pernah mengajar di sebuah SMK Negeri di Kecamatan Seputih Agung, dan SMK Swasta di Kecamatan Seputih Mataram.

Warga Dusun V, RT.005 ini meyakinkan bahwa dirinya menguasai persoalan di Kampung Qurnia Mataram, dan dia juga punya solusi untuk mengatasinya.

Sarminto menuturkan, motivasinya untuk mencalon Kepala Kampung Qurnia Mataram adalah untuk memajukan kampung dan mensejahterakan kampung agar menjadi kampung berjaya. Dari berbagai lini keluhan masyarakat yang belum dibenahi, agar dibenahi kedepannya.

Ditanya apa yang berbeda dari dirinya dibandingkan bakal calon lainnya hingga membuat masyarakat tertarik untuk memilih dia? Sarminto meyakinkan bahwa dirinya paham persoalan yang ada di Kampung Qurnia Mataram, dan dia punya solusi untuk mengatasinya.

Dia mencontohkan, gejolak di masyarakat terkait dengan bantuan-bantuan untuk warga. Bantuan itu harus diluruskan, dengan menentukan warga yang berhak mendapatkan bantuan melalui mekanisme musyawarah kampung. Yang melibatkan aparatur kampung dan tokoh masyarakat sekitar.

Selain itu ada persoalan pupuk yang jumlahnya kurang. Sebagai ketua kelompok tani, dia mengaku sangat memahami keluhan para petani. Hal itu karena kurangnya komunikasi antara kelompok tani, gabungan kelompok tani dan kepala kampung.

“Belum pernah sama sekali ada pertemuan,” jelasnya.

Masih kata Sarminto, jalan menuju lahan persawahan warga kebanyakan sudah rusak. Warga mengalami kendala saat membawa hasil pertanian. Dia mengungkapkan, dulu pernah mengupayakan meminjam alat berat dari pemerintah daerah.

Untuk kedepannya dia punya solusi untuk membuat alat sendiri untuk membenahi jalan menuju lahan persawahan warga. Dia bersama rekan lain sudah sepakat dan menyetujui.

Dia melanjutkan, Anggaran Dana Desa (ADD) tidak bisa dipastikan sampai kapan terus diberikan. Perlu dicari solusi lainnya untuk mengatisipasi. Dengan menciptakan tahah bengkok, untuk kesejahteraan masyarakat kampung.

Sarminto menargetkan perolehan suara sebesar 70 persen dalam Pilkakam mendatang. Dia menyebut Karyanto, bakal calon petahana merupakan saingat terberat. Selain memiliki pengalaman, Karyanto memilki loyalis.

Dia berharap kepada bakal calon lainnya, semau bakal calon bisa berwawasan yang luas dan pelaksaan Pilkakam berlangsung damai. Siapapun yang menang semua harus berlapang dada.

“Dan dia harus benar-benar berjuang untuk kampung dengan iklas. Luruskan niat masing-masing calon kakam,” tutupnya.

Semua figur memiliki latar belakang yang berbeda. Baik dari sepak terjang, tingkat pendidikan, pekerjaan, cara berkomunikasi, dan konsep yang diusung menjadi ciri khas masing-masing. Pilihan ada di masyarakat, mana yang terbaik dari yang paling baik. (Willy Dirgantara)

Komentar

Realita Lampung