oleh

Tidak Mampu Membayar Uang Komite, Ijazah Ditahan Pihak Sekolah

Lampung Tengah – Karena tidak memiliki uang untuk melunasi uang komite, seorang tamatan SMK Negeri 3 Terbanggi Besar tidak diberikan ijazah. Sejumlah pihak mengungkapan bahwa anak tersebut ekonominya memang benar-benar tidak mampu.

Valentino, atau yang akrab valen, merupakan tamatan SMK Negeri 3 Terbanggi Besar Tahun 2022. Semenjak lulus sekolah, valen belum diberikan ijazah oleh pengelola sekolah. Alasannya karena dia belum melunasi uang komite sebesar 7 jutaan rupiah.

Yeni Indrawati yang merupakan ibu dari Valen menuturkan, sewaktu mengambil sidik jadi beberapa waktu lalu di hanya diberikan foto copy ijazah dengan menebus biaya sebesar 500 ribu rupiah. Pihak sekolah berasalan ijazah asli tidak berikan dengan alasan belum melunasi uang komite sebesar 7 jutaan rupiah.

Dia mengungkapkan, keadaan ekonominya sangat minim. Dia sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci rumah tangga. Ibu dari 3 orang anak ini merupakan singgle parent, yang tinggal dirumah orang tuannya. Dia berharap pengelola SMKN 3 bisa memberikan ijazah milik anaknya.

“Harapan saya, saya mohon ijazah anak saya dikasih. Tinggal aja saya bersama orang tua,” ujarnya, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Kepala Kampung Poncowati periode 2016-2022 Gunawan Pakpahan mengatakan, Yeni dan Valentino merupakan warga Kampung Poncowati. Ketika dirinya masih sebagai kepala Kampung, Yeni pernah mengadukan bahwa dia tidak bisa mengambil ijazah anaknya karena masih ada tunggakan uang komite di SMKN 3 Terbanggi Besar.

Dia melanjutkan, karena tidak mampu untuk menebus ijazah karena ada tunggakan maka Yeni mengadukan kepada Kepala Kampung Poncowati. Kemudian saya buat surat keterangan tidak mampu. Dan bu Yeni ini juga mendapatkan bantuan dari program PKH.

“Program PKH ini diberikan karena ibu Yeni ini memang benar-benar tidak mampu. Harusnya sekolah membebaskan biaya komite,” jelasnya.

Masih kata Gunawan, dalam setiap rapat Komite bilamana ada siswa yang tidak mampu maka diberikan surat keterangan dari kepala kampung. Bahwa anak ini benar-benar tidak mampu. Ditanya apakah sudah pernah mediasi dengan pihak SMKN 3 Terbanggi Besar? Gunawan menjawab sudah.

Ketika ada yang tidak mampu membayar komite, bagaimaan ijazah ini bisa diambil? Melalui pemerintahan kampung ini membantu agar ijazah bisa keluar. Tapi sampai saat ini ijazah tersebut tidak diberikan.

“Harapan saya kapada kepala SMKN 3 dan Komite berikan ijazah anak tersebut. Karena sekolah tidak punya wewenang menahan ijazah anak hanya karena tidak mampu lagi untuk membayar uang komite,” tegasnya.

Masih kata Gunawan, ini menjadi catatan pemerintah baik kepala Dinas Pendidikan dan Gubernur untuk bisa menindak kepala sekolah yang tidak memperhatikan orang-orang yang memang tingkat ekonominya dibawah.

Jadi sekolah ini bukan tempat mencari uang, tapi sekolah ini tempatnya untuk mendidik. Dimana memang anak ini harus tamat sekolah, jangan hanya karena biaya. Dan anggaran pemerintah sudah cukup untuk sekolah itu. Artinya jangan kita jangan mengkebiri hak anak.

“Saat orang tua tidak mampu lagi membayar komite, ijazah jangan lagi ditahan. Berikan biar anak ini bisa bekerja. Sekolah jangan lagi menghalang-halangi hak anak tersebut,” tandasnya.

Dia menambahkan, orang tua dari Valentino mempunyai kartu PKH. Yang benar-benar dibiayai pemerintah karena tidak mampunya orang tua tersebut.

Ditempat terpisah, sejumlah tetangga Yeni mengungkapkan kondisi ekonomi Yeni yang sangat minim. Siti Rohana, warga RT.11 Dusun A2 Kampung Poncowati ini mengatakan, di sangat mengenal Yeni karena pernah menempati rumah miliknya.

Dikatan Siti Rohana, Yeni selama ini hidup dibantu oleh anaknya Valen yang bekerja serabutan. Yeni sendiri tidak mempunyai pekerjaan. Valen bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup ibu dan kedua adiknya yang masih kecil.

“Kasihan juga anaknya 3. Ya Valen itu yang kasih makan,” ujarnya sembari berlinang air mata.

Tetangga lainnya, Leni mengungkapkan, kehidupan Yeni sangat sulit. Karena Yeni seorang janda yang tidak mempunyai pekerjaan tetap. Suaminya sudah lama pergi meninggalkan Yeni dan anak-anaknya dan tidak memberikan nafkah.

“Emang benar-benar susah Yeni itu,” jelasnya.

Sementara itu, kepala SMKN 3 Terbanggi Besar Nurhasanah saat dihendak di konfirmasi Rabu kemaren tidak ada ditempat. Menurut petugas keamanan Supono, Nurhasanah sedang pergi ke Surabaya sejak beberapa hari lalu. Dan dia mengaku tidak mengetahui kapan Nurhasanah kembali bertugas di sekolah. (Wlly Dirgantara)

Komentar

Realita Lampung