Ariansyah SH, MH : Kalau DC Melanggar Ketentuan Hukum Harus Dilaporkan ke Polisi

Kasus Dept Collecktor (DC) yang dilaporkan ke Polisi oleh warga, mendapat tanggapan dari praktisi hukum asal Bandar Lampung, Ariansyah, SH, MH. Menurut dia, DC tidak boleh menagih dengan melanggar aturan yang ditetapkan.

Praktisi hukum yang juga Advokad di Bandar Lampung, Ariansyah, SH, MH, ketika diminta pendapatnya via pesan singkat di Whats App terkait kasus tersebut mengatakan, Dept Collecktor (DC) tidak boleh menagih kepada pihak yang bukan konsumen.

Menurut bang Ancah, sapaan Ariansyah SH, MH, penagihan oleh DC tidak boleh disertai ancaman atau mempermalukan konsumen. Jika ada indikasi mengarah ke pelanggaran hukum, Bang Ancah menyarankan untuk melaporkan ke Polisi.

“Kalau DC melanggar ketentuan hukum ya harus dilaporkan ke Polisi,” tulisnya, pada Kamis (14/03/2024).

Ditanya tentang masuk rumah orang tanpa izin apakah ada pasal pidananya? Bang Ancah menuturkan, Itu diatur dalam peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). DC boleh datang kerumah konsumen sesuai surat kuasa yang diberikan perusahaan pembiayaan.

“Tapi waktunya datang jam 8 pagi sampai jam 8 malam. Harus baik-baik dan sopan, dan seizin pemilik rumah,” jelasnya.

Kembali ditanya, apakah pasal yang disangkakan oleh penyidik (pasal 335) cukup menjerat pelaku, atau seharusnya dikenakan pasal berlapis lainnya, seperti masuk pekarangan tanpa izin? Bang Ancah memberikan jawaban diplomatis.

“Ya itu tergantung keyakinan penyidik, duduk masalahnya seperti apa. Yang pasti DC tidak boleh bersikap intimidasi, ancaman, mempermalukan, dan memasuki rumah konsumen tanpa izin pemilik,” jawabnya.

Sementara itu, dalam unggahan di Instagram OJK melalui akun resmi @ojkindonesia pada Jumat (19/1/2024), regulator sektor jasa keuangan ini menyampaikan penagihan kredit atau pembiayaan tidak dapat dilakukan secara sembarangan.

OJK menyebutkan, terdapat 7 aturan baru penagihan kredit yang tertuang dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 22 Tahun 2023.

Aturan terbaru penagihan kredit dari OJK adalah sebagai berikut ; Pertama, tidak menggunakan cara ancaman kekerasan atau tindakan yang bersifat mempermalukan konsumen.

Contohnya, menyebarluaskan informasi mengenai kewajiban konsumen yang terlambat, kepada kontak telepon yang dimiliki oleh konsumen.

Aturan kedua, tidak menggunakan tekanan secara fisik maupun verbal. Ketiga, tidak menagih kepada pihak selain konsumen. Keempat, tidak menagih secara terus-menerus yang bersifat mengganggu.

Aturan kelima, penagihan di tempat alamat domisili konsumen. Keenam, penagihan hanya pada hari Senin sampai dengan Sabtu, di luar hari libur nasional, dari pukul 08.00 hingga 20.00 waktu setempat.

Dan aturan ke tujuh, untuk penagihan di luar tempat domisili konsumen dan pada waktu yang diatur di atas, hanya dapat dilakukan atas dasar persetujuan atau perjanjian dengan konsumen terlebih dahulu.

Diberitakan media ini sebelumnya, dua orang Dept Collecktor sebuah perusahaan pembiayaan, dilaporkan oleh warga karena diduga melakukan tindakan kekerasan verbal yang mengakibatkan trauma psykis berat.

Korban berinisial In, warga Dusun Irian II, RT.19/RW.08, Kampung Toto Katon, Kecamatan Punggur, Kabupaten Lampung, hingga saat ini masih mengalami trauma yang cukup berat. Nyaris setiap hari korban sering kali meraung, bahkan pernah membenturkan kepala ke dinding.

Sedangkan terlapor berinisial AA, warga Desa Gunung Tiga, Dusun 1. RT.004/RW.002, dan EMG, warga Dusun V, Desa Sukaraja Nuban, Kecamatan Batang Hari Nuban, Kabupaten Lampung Timur. Diketahui terlapor merupakan Dept Collecktor sebuah perusahaan pembiayaan.

Dituturkan oleh suami korban, Novrizal Usman, peristiwa bermula dari kedatangan 2 orang pria yang tidak dia kenal, yang mengaku Dept Collecktor sebuah perusahaan pembiayaan, ke kediamannya pada Rabu 28 Februari 2024.

Dua orang tersebut masuk ke dalam rumah korban tanpa permisi dan langsung menghardik dengan nada tinggi. Salah satu dari mereka menanyakan seseorang yang bernama Johan. Novrizal menjawab, dia tidak mengetahui keberadaan Johan. Sedangkan rumah Johan berada disamping rumahnya.

Seolah tak terima mendapat jawaban tersebut, salah seorang Dept Collecktor itu mengatakan, “Saya tidak tahu menahu, setahu saya motor itu kemarin kesini, makanya saya kesini”. Lalu korban menjawab, “Ya engga lah bang, sampeyan cari Johan? Sampeyan salah alamat, rumah mas Johan disamping, bukan disini”.

“Sampeyan bisa saya tuntut karena masuk rumah tanpa izin,” ucap Novrizal, kepada dua orang Dept Collecktor tersebut.

Salah seorang pelaku kembali berujar, “tuntutlah, saya tidak takut biar sekalian kamu saya habisin”. Lalu pelaku kembali berkata, “kamu bisa saya tuntut penggelapan, karena motor ada disini, saya ini sarjana hukum”.

Sempat terjadi perdebatan, kemudian pelaku berkata, ”Yang penting sekarang angsurannya, kalau tidak ada maka motor saya ambil”. Mendengar perkataan pelaku yang bernada tinggi, pada saat itu korban mengalami sesak nafas, dan disusul kedatangan sejumlah warga.

“Yang kredit motor bukan saya, yang pegang motor bukan saya, kenapa dia masuk kerumah tanpa izin dan bentak-bentak saya dan istri saya?” tandas Novrizal, saat ditemui dikediamannya, pada Rabu (13/03/2024).

Kemudian pelapor membawa korban ke klinik Yura, yang berada di Kampung Toto Katon, untuk mendapatkan perawatan medis. Di Klinik itu, korban dirawat selama 2 hari 2 malam. Karena tidak bisa menggunakan BPJS, dan tidak ada uang untuk biaya perawatan, korban lalu dibawa pulang oleh suaminya.

Setelah satu hari dirawat dirumah, suami korban kemudian membawa istri berobat ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ahmat Yani, Kota Metro, agar diperiksa di instalasi syaraf, untuk mendapatkan visum et repertum.

Di RSUD Ahmat Yani, korban sempat dirawat selama 2 hari. Karena keterbatasan peralatan medis khusus syaraf, pihak rumah sakit menganjurkan untuk dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa di Negeri Sakti, Kabupaten Pesawaran, untuk di visum.

Pada akhirnya suami korban melaporkan perbuatan kedua pelaku ke Polsek Punggur, Polres Lampung Tengah, dengan nomer laporan LP/ B / 8/.II/2024 SPKT Polsek Punggur Polres Lampung Tengah, dengan sangkaan Pasal 335 ayat 1 KUHPidana, pada Tanggal 29 Februari 2024.

Kepada media ini, korban dan suami meminta keadilan, agar pelaku bisa di proses secara hukum. Karena perbuatan pelaku mengakibatkan dirinya mengalami goncangan jiwa yang hebat. Sampai berita ini dirilis, kedua terlapor belum bisa hubungi untuk dikonfirmasi tentang kasus ini. (Tim)

Komentar